Lompat ke konten
SediaPayung
Oktober adalah Bulan Inklusi Keuangan & 18 Oktober Hari Asuransi Nasional. Hitung kebutuhanmu →
TerlindungiAsuransi Jiwa

Warung Bu Sari tetap buka

Uang santunan itu bukan buat kami kaya mendadak. Itu buat warung tetap punya modal belanja besok pagi.

Sari Wulandari, 41, Yogyakarta

14 Juni 2026

Cerita ini ilustratif: komposit dari pengalaman umum yang kami temui, dengan nama, kota, dan angka yang diubah agar tidak mengidentifikasi siapa pun. Pelajarannya nyata.

Suami saya, Mas Broto, yang biasa belanja ke pasar induk jam tiga pagi. Saya yang jaga warung dan momong anak-anak. Begitu pembagian kerja kami selama dua belas tahun jualan sembako di dekat terminal.

Bulan Maret tahun lalu, Mas Broto kena serangan jantung di dapur, tiba-tiba, waktu lagi ngangkat galon. Usianya baru 44 tahun. Tidak ada tanda-tanda sebelumnya — paling capek biasa, katanya. Kami sekeluarga masih syok sampai sekarang kalau diingat-ingat.

Yang bikin saya bertahan waktu itu, selain anak-anak, adalah satu polis asuransi jiwa yang kami ambil lima tahun sebelumnya. Waktu itu ada agen — teman SMA suami saya — yang menawarkan. Awalnya saya sempat ragu, mikir "ah, buang-buang uang buat sesuatu yang belum tentu kepakai." Preminya sekitar Rp200.000-an sebulan, uang pertanggungan Rp150 juta. Kami ambil karena kebetulan waktu itu memang lagi mau ambil pinjaman modal usaha juga, jadi sekalian dianggap "jaga-jaga."

Minggu-minggu pertama setelah kepergian Mas Broto, saya nyaris tidak sanggup buka warung. Rak-rak kosong karena kulakan terakhir belum sempat dibayar, dan dua anak saya masih kecil-kecil, butuh diurus penuh. Tetangga-tetangga membantu seadanya — ada yang titip jualan gorengan supaya warung tetap kelihatan buka, ada yang bantu jagain anak bungsu saya waktu saya harus keluar urus surat-surat. Tapi bantuan seperti itu ada batasnya, tidak bisa jadi sandaran jangka panjang.

Waktu Mas Broto meninggal, saya baru ngeh betapa pentingnya proses administrasi yang jujur di awal. Untungnya dulu waktu isi SPAJ (formulir permintaan asuransi jiwa), Mas Broto cerita apa adanya soal riwayat kesehatannya — termasuk soal kolesterol tinggi yang sempat diperiksa setahun sebelumnya. Katanya waktu itu, "mending jujur dari awal, daripada nanti pas diklaim malah ditolak." Ternyata benar. Waktu klaim, pihak asuransi memang menanyakan riwayat itu, tapi karena sudah diungkapkan sejak awal dan tidak disembunyikan, klaim tetap diproses.

Prosesnya sendiri makan waktu sekitar tiga minggu dari saya kirim semua dokumen — surat kematian, KTP, KK, polis asli, sampai surat keterangan dari puskesmas — sampai dana cair. Ada dokumen yang harus saya lengkapi ulang karena kurang satu stempel, jadi sebenarnya bisa lebih cepat kalau saya lebih teliti dari awal. Selama menunggu itu saya sempat was-was, takut ada alasan lain yang bikin klaim ditolak, karena saya dengar cerita-cerita dari grup WhatsApp ibu-ibu kompleks soal klaim yang berbelit. Untungnya punya saya berjalan relatif lancar.

Rp150 juta itu tidak saya pakai foya-foya. Sebagian saya taruh untuk melunasi utang kulakan yang belum kebayar, sebagian jadi modal belanja warung selama beberapa bulan ke depan supaya rak-rak tidak kosong, dan sisanya saya simpan sebagai dana darurat. BPJS Ketenagakerjaan Mas Broto juga cair santunan kematian sekitar Rp42 juta — karena dia terdaftar sebagai pekerja informal lewat program BPU. Dua-duanya jalan bareng, dan itu yang bikin saya tidak perlu gulung tikar dalam sebulan pertama yang paling berat.

Sekarang warung masih buka setiap hari, cuma saya yang pegang sendiri dibantu anak sulung saya yang libur kuliah. Omzetnya belum sebesar dulu, tapi tetap jalan. Anak-anak masih sekolah, tidak ada yang putus. Saya juga mulai menambah dagangan kecil-kecilan, jualan pulsa dan token listrik, supaya ada sumber pemasukan tambahan yang tidak bergantung sepenuhnya pada warung sembako saja.

Ada masa-masa saya masih suka melamun di belakang etalase, membayangkan kalau Mas Broto masih ada, mungkin warung ini sudah lebih besar sekarang. Tapi saya coba tidak terlalu lama tenggelam di situ, karena anak-anak butuh saya tetap berdiri dan jalan.

Saya sering bilang ke tetangga-tetangga yang juga jualan kecil-kecilan: bukan soal jumlahnya besar atau kecil. Yang penting ada. Karena waktu itu terjadi, kita tidak sempat mikir mau cari modal dari mana — semua serba mendadak, dan yang bisa diandalkan cuma yang sudah disiapkan jauh-jauh hari. Bagi saya, premi yang dulu terasa seperti beban bulanan kecil itu, sekarang terasa seperti keputusan paling penting yang pernah kami ambil berdua.

Catatan: ini kisah ilustratif yang menggabungkan pengalaman umum banyak pelaku UMKM di Indonesia; nama & detail diubah untuk privasi.