Lompat ke konten
SediaPayung
Oktober adalah Bulan Inklusi Keuangan & 18 Oktober Hari Asuransi Nasional. Hitung kebutuhanmu →
TerlindungiAsuransi Jiwa

Rangga tetap bisa lanjut kuliah

Ayah selalu bilang, kuliah itu jangan sampai putus di tengah jalan. Dia menepati janji itu, walau sudah tidak ada.

Rangga Pratama, 20, Surabaya

2 Juli 2026

Cerita ini ilustratif: komposit dari pengalaman umum yang kami temui, dengan nama, kota, dan angka yang diubah agar tidak mengidentifikasi siapa pun. Pelajarannya nyata.

Ayah saya sopir truk logistik antar kota. Kerjanya berat, jam kerjanya tidak menentu, kadang seminggu penuh di jalan. Ibu saya jualan kue basah di rumah. Dari penghasilan gabungan itu saya bisa kuliah di jurusan teknik industri, jurusan yang saya pilih sendiri karena memang minat.

Semester tiga, pertengahan tahun, ayah kecelakaan waktu bawa truk dari luar kota. Bukan kecelakaan kerja yang parah kelihatannya di awal, tapi komplikasi setelah itu bikin kondisinya memburuk cepat, dan dalam waktu kurang dari dua minggu ayah meninggal di rumah sakit.

Saya masih ingat malam itu, ditelepon ibu tengah malam, langsung pulang dari kos naik angkutan pertama yang saya temukan. Sepanjang jalan saya cuma bisa mikir, bagaimana nasib kuliah saya, bagaimana nasib adik yang masih SMA, bagaimana ibu bisa menanggung semuanya sendirian.

Saya sempat mikir bakal berhenti kuliah. Uang kos, uang semester, buku, praktikum — semua itu biasanya dari ayah. Ibu saya jualan kue tidak mungkin menutupi semuanya sendirian, apalagi kami juga masih ada adik yang SMA.

Ternyata ayah, tanpa banyak cerita ke saya, sudah punya polis asuransi jiwa sejak saya SMP. Preminya waktu itu sekitar Rp180.000 sebulan, uang pertanggungan Rp300 juta. Ibu saya baru cerita soal ini seminggu setelah pemakaman, waktu beliau berani buka-buka berkas ayah.

Proses klaimnya tidak instan. Ibu saya harus siapkan macam-macam: akta kematian dari kelurahan, surat keterangan dari rumah sakit soal sebab kematian, KTP, KK, buku nikah, sampai polis asli. Ada juga proses verifikasi ke pihak asuransi yang menanyakan detail soal kecelakaan dan riwayat kesehatan ayah sebelumnya — untungnya semua yang dulu diisi ayah di SPAJ jujur dan sesuai kondisi sebenarnya, jadi tidak ada masalah waktu verifikasi. Total dari pengajuan sampai dana cair sekitar satu bulan lebih.

Selama proses itu berjalan, saya sempat mengambil cuti kuliah satu semester karena masih belum yakin situasi keuangan keluarga akan seperti apa. Ibu yang mendorong saya supaya tidak buru-buru berhenti total, katanya "tunggu dulu, jangan ambil keputusan besar waktu masih sedih begini." Ternyata benar, begitu dana klaim cair, saya bisa daftar aktif kuliah lagi di semester berikutnya tanpa harus mengorbankan jurusan atau kampus yang sudah saya jalani.

Uang itu tidak langsung dihabiskan. Ibu saya, dibantu paman, membaginya: sebagian ditaruh di rekening khusus untuk biaya kuliah saya sampai lulus — dihitung kasar, biaya kuliah per semester di kampus saya waktu itu berkisar dari beberapa juta hingga belasan juta rupiah tergantung mata kuliah dan praktikum yang diambil — sebagian untuk kebutuhan adik saya yang masih sekolah, dan sisanya jadi tabungan cadangan ibu untuk modal usaha kue supaya bisa jalan lebih besar.

Saya akhirnya lulus, meski molor satu semester karena cuti yang saya ambil di awal, tanpa harus kerja sambilan penuh waktu yang mengganggu kuliah seperti beberapa teman lain. Ada teman-teman satu angkatan saya yang orang tuanya meninggal juga tapi tidak punya persiapan seperti ini — mereka harus kerja paruh waktu sambil kuliah, ada yang sampai molor lulusnya dua tahun, bahkan ada yang akhirnya pindah ke kampus yang lebih murah demi bisa menyelesaikan pendidikan.

Saya tidak pernah membayangkan bakal butuh "asuransi jiwa" waktu masih SMP dulu — kedengarannya jauh, urusan orang dewasa. Tapi sekarang saya paham kenapa ayah memilih itu. Bukan karena dia menyangka bakal meninggal muda. Tapi karena dia tahu, kalau sesuatu terjadi padanya, dia tidak mau mimpi saya kuliah ikut terhenti begitu saja.

Catatan: ini kisah ilustratif yang menggabungkan pengalaman umum banyak keluarga Indonesia; nama & detail diubah untuk privasi.