Rumah itu akhirnya harus dilepas
“Kami tidak menjual rumah karena ingin. Kami menjual karena tidak ada jalan lain untuk menutup semuanya.”
Ratna Sari Dewi, 45, Denpasar
10 September 2026
Cerita ini ilustratif: komposit dari pengalaman umum yang kami temui, dengan nama, kota, dan angka yang diubah agar tidak mengidentifikasi siapa pun. Pelajarannya nyata.
Suami saya, Wayan, punya usaha bengkel motor kecil yang dia rintis sendiri dari nol, sudah berjalan lebih dari sepuluh tahun. Dari situ kami bisa punya rumah sendiri — meski masih ada cicilan KPR yang belum lunas — dan menyekolahkan dua anak kami.
Wayan meninggal mendadak karena serangan jantung, usianya baru 47 tahun. Tidak ada riwayat sakit jantung sebelumnya yang kami tahu — paling keluhan capek dan begah yang dianggap masuk angin biasa. Kejadiannya cepat sekali, dari mulai mengeluh sesak sampai beliau tidak tertolong, semua terjadi dalam hitungan jam.
Saya waktu itu ibu rumah tangga penuh, tidak punya penghasilan sendiri karena fokus mengurus anak dan rumah. Praktis, begitu Wayan tidak ada, seluruh sumber pendapatan keluarga kami ikut hilang seketika. Bengkel yang biasa buka setiap hari, mendadak harus tutup karena tidak ada yang mengelola — dua anak buah Wayan akhirnya mencari kerja di tempat lain karena saya tidak sanggup meneruskan usahanya sendirian.
Yang membuat situasi makin berat, kami masih punya cicilan KPR yang tersisa sekitar delapan tahun lagi, ditambah utang modal bengkel yang belum lunas ke koperasi. Wayan tidak pernah punya polis asuransi jiwa — bukan karena tidak pernah dengar soal itu, tapi karena menurutnya selama dia masih sehat dan bengkel masih jalan, uang lebih baik diputar untuk usaha daripada "dibayar ke asuransi." Dan KPR kami sendiri, sialnya, adalah KPR lama dari sebelum aturan wajib asuransi jiwa kredit diterapkan ketat di banyak bank, jadi tidak otomatis ter-cover kalau debitur meninggal.
Selama beberapa bulan setelah Wayan meninggal, saya coba bertahan dengan sisa tabungan, dibantu keluarga besar. Tapi tabungan itu cepat terkuras untuk kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah anak, dan cicilan yang tetap harus dibayar tiap bulan meski tidak ada lagi pemasukan tetap. Saya sempat coba kerja serabutan, tapi penghasilannya jauh dari cukup untuk menutup semua kebutuhan itu.
Setelah hampir setahun berjuang, dengan berat hati saya dan keluarga besar memutuskan rumah harus dijual. Bukan keputusan yang saya ambil dengan mudah — rumah itu tempat anak-anak besar, tempat Wayan membangun mimpinya. Tapi pilihannya waktu itu cuma dua: menjual sebelum bank mengambil paksa lewat proses yang lebih rumit dan merugikan, atau menunggu sampai tunggakan makin menumpuk. Setelah rumah terjual dan semua utang lunas, sisa uangnya kami pakai untuk mengontrak rumah yang lebih kecil dan modal saya membuka usaha kecil-kecilan berjualan di rumah.
Saya tidak menceritakan ini untuk menyalahkan Wayan. Dia bekerja keras, dia sayang keluarga, dan keputusannya waktu itu masuk akal buat dia sebagai pengusaha yang sedang membesarkan usaha. Banyak orang berpikir sama seperti dia — merasa masih muda, masih sehat, jadi proteksi terasa seperti pengeluaran yang bisa ditunda.
Tapi kalau ada yang membaca cerita kami dan posisinya mirip — jadi tulang punggung tunggal, punya usaha atau cicilan yang bergantung sepenuhnya pada satu penghasilan — mungkin ini saat yang baik untuk bertanya ke diri sendiri: seandainya besok saya tidak ada, apa keluarga saya masih bisa bertahan di rumah yang sama? Tidak harus polis besar. Kadang yang menyelamatkan bukan jumlahnya, tapi sekadar ada atau tidaknya sesuatu yang bisa diandalkan waktu yang paling tidak terduga benar-benar terjadi.
Catatan: ini kisah ilustratif yang menggabungkan pengalaman umum banyak keluarga Indonesia; nama & detail diubah untuk privasi.