Tolong-menolong yang benar-benar terasa
“Yang paling menenangkan bukan cuma dananya cair, tapi tahu bahwa uang itu dari sesama peserta yang ikhlas saling menolong.”
Aisyah Rahmawati, 39, Medan
20 Juli 2026
Cerita ini ilustratif: komposit dari pengalaman umum yang kami temui, dengan nama, kota, dan angka yang diubah agar tidak mengidentifikasi siapa pun. Pelajarannya nyata.
Kami memang dari awal mencari yang berbasis syariah untuk urusan keuangan keluarga — dari tabungan, sampai waktu suami saya, Fadli, menyarankan kami ikut asuransi jiwa syariah lima tahun lalu. Alasan Fadli waktu itu sederhana: dia mau produk yang jelas akadnya, tidak ada unsur yang meragukan, dan prinsipnya tolong-menolong antar peserta, bukan cuma transaksi jual-beli risiko biasa.
Fadli kerja di perusahaan ekspedisi sebagai kepala gudang. Gajinya cukup untuk kebutuhan kami berempat, dua anak masih SD dan TK. Preminya, yang dalam istilah syariah disebut kontribusi, sekitar Rp220.000 sebulan untuk uang pertanggungan Rp250 juta.
Bulan Januari lalu, Fadli meninggal mendadak karena komplikasi diabetes yang sebenarnya sudah dia tahu tapi jarang dikontrol serius — pekerjaan yang padat bikin dia sering menunda periksa. Usianya 42 tahun. Malam itu dia sempat mengeluh pusing dan mual sepulang kerja, kami kira cuma kecapekan biasa, sampai kondisinya drop cepat sekali dan kami buru-buru bawa ke IGD terdekat.
Saya sempat khawatir soal klaim, karena setahu saya kondisi kesehatan yang tidak dikelola dengan baik kadang jadi alasan pihak asuransi mempersulit proses. Tapi karena dulu waktu isi SPAJ, Fadli jujur soal riwayat diabetesnya — sudah diperiksa dan terkontrol waktu itu, belum ada komplikasi — pihak asuransi tidak mempersoalkan itu waktu verifikasi klaim.
Prosesnya saya jalani dengan didampingi anak sulung saya yang sudah SMA, karena saya sendiri masih terlalu berduka untuk urus administrasi sendirian. Kami siapkan surat kematian, KK, KTP, polis asli, dan surat keterangan medis dari rumah sakit. Pihak perusahan asuransi tempat polis terdaftar cukup responsif, ada petugas yang menjelaskan tahapannya lewat telepon supaya saya tidak bolak-balik tanpa arah. Total dari pengajuan sampai dana masuk rekening sekitar satu bulan.
Yang membuat saya benar-benar terenyuh adalah waktu petugas menjelaskan bahwa dana yang saya terima itu berasal dari dana tabarru' — dana yang dikumpulkan bersama dari kontribusi semua peserta, yang diniatkan sejak awal untuk saling menolong sesama peserta yang tertimpa musibah. Jadi bukan semata "uang perusahaan yang dibayarkan ke saya," tapi lebih terasa seperti gotong royong dari orang-orang yang tidak saya kenal, yang dulu ikut membayar kontribusi dengan niat yang sama seperti Fadli — supaya kalau ada yang mengalami musibah, ada yang menopang keluarganya.
Uang Rp250 juta itu saya bagi: sebagian untuk biaya hidup sehari-hari kami bertiga selama masa transisi saya mencari penghasilan tambahan, sebagian untuk tabungan pendidikan anak-anak, dan sedikit saya sisihkan untuk sedekah — rasanya pantas, mengingat dari mana uang itu berasal secara prinsip. Saya juga mulai belajar berjualan kue kering secara daring, modal awalnya dari sisa dana itu, supaya ada penghasilan rutin yang bisa saya kendalikan sendiri dari rumah sambil tetap mengurus anak-anak.
Saya juga sempat dengar soal LAPS SJK, lembaga yang bisa dihubungi kalau ada sengketa klaim asuransi yang tidak menemukan titik temu. Untungnya saya tidak perlu sampai ke sana, karena prosesnya berjalan wajar dari awal.
Bagi saya dan anak-anak, kejadian ini bukan cuma soal dana cair. Ini bukti bahwa prinsip yang kami pegang — mencari yang sesuai syariah, yang jelas akadnya, yang berlandaskan tolong-menolong — bukan sekadar slogan di brosur. Waktu benar-benar dibutuhkan, prinsip itu terasa nyata.
Sekarang, tiap kali saya membayar kontribusi bulanan untuk polis anak-anak yang baru saya buka setelah kejadian ini, saya selalu ingat rasanya jadi pihak yang menerima pertolongan itu. Dan itu yang membuat saya yakin, uang yang saya sisihkan sekarang, suatu hari mungkin juga akan menjadi pertolongan bagi peserta lain yang sedang menghadapi musibahnya sendiri.
Catatan: ini kisah ilustratif yang menggabungkan pengalaman umum banyak keluarga Indonesia; nama & detail diubah untuk privasi.