Ketika donasi online jadi jalan terakhir
“Saya tidak pernah membayangkan harus minta tolong ke orang-orang yang bahkan tidak kenal kami, cuma untuk bayar rumah sakit ibu.”
Dewi Lestari, 33, Bandung
19 Agustus 2026
Cerita ini ilustratif: komposit dari pengalaman umum yang kami temui, dengan nama, kota, dan angka yang diubah agar tidak mengidentifikasi siapa pun. Pelajarannya nyata.
Ibu saya kena stroke berat bulan Februari lalu, usianya 63 tahun. Beliau memang punya riwayat darah tinggi, tapi tidak pernah kontrol rutin — alasannya klasik, "sibuk," "nanti-nanti saja," padahal kami sudah beberapa kali mengingatkan.
Ibu punya BPJS Kesehatan kelas 3, iurannya sekitar Rp35.000 sebulan setelah subsidi, rutin dibayar oleh adik saya yang tinggal serumah dengan beliau. Waktu masuk IGD, saya pikir semua akan tertangani karena kami punya BPJS. Dan memang, sebagian besar biaya perawatan awal — ruang rawat inap kelas 3, tindakan medis standar, obat-obatan tertentu — ditanggung.
Tapi kondisi ibu memburuk dan butuh perawatan intensif di ICU selama beberapa minggu, ditambah terapi pascastroke yang cukup panjang. Di sinilah saya mulai paham bahwa BPJS, meski jadi pondasi penting, punya batasan-batasan yang tidak saya sadari sebelumnya — ada obat tertentu di luar Fornas (daftar obat yang ditanggung) yang harus kami beli sendiri, ada alat bantu medis untuk masa pemulihan yang tidak sepenuhnya ditanggung, dan biaya pendamping selama ibu dirawat lama juga menumpuk sendiri — transportasi bolak-balik, makan, penginapan sementara buat saya yang rumahnya beda kota.
Kami tidak punya asuransi kesehatan tambahan apa pun untuk ibu, apalagi asuransi penyakit kritis. Bukan karena tidak pernah kepikiran — beberapa kali ada yang menawarkan, tapi selalu terasa "belum prioritas," apalagi penghasilan keluarga kami memang pas-pasan untuk kebutuhan harian, jadi premi bulanan terasa seperti pengeluaran tambahan yang berat untuk dipikul di tengah kebutuhan yang sudah banyak. Adik saya sempat cerita, dulu ada yang menawarkan polis kesehatan tambahan dengan premi tidak terlalu besar, tapi waktu itu kami pikir "ibu kan sudah ada BPJS, buat apa lagi," tanpa benar-benar menghitung skenario kalau sampai butuh perawatan intensif berkepanjangan seperti ini.
Setelah dua minggu, tabungan keluarga kami habis, kartu kredit adik saya juga sudah maksimal dipakai. Kami mulai pinjam ke saudara, tapi itu pun ada batasnya — semua orang punya kebutuhan masing-masing. Akhirnya, dengan berat hati, saya dan adik memutuskan membuka galang dana online lewat salah satu platform donasi, menceritakan kondisi ibu apa adanya, melampirkan surat keterangan rumah sakit sebagai bukti.
Rasanya berat sekali waktu itu. Bukan cuma soal harus terbuka ke orang banyak tentang kesulitan keluarga kami, tapi juga rasa tidak enak — seolah kami gagal menyiapkan diri untuk situasi seperti ini. Untungnya, campaign itu mendapat respons yang cukup baik, terkumpul dana yang menutup sebagian besar kekurangan biaya, ditambah bantuan dari tempat kerja saya yang juga menggalang dana internal.
Ibu sekarang berangsur pulih, meski masih perlu terapi rutin dan belum bisa beraktivitas normal seperti dulu. Tapi proses itu meninggalkan bekas — bukan cuma di ibu, tapi di kami sekeluarga, soal betapa rentannya posisi kami kalau ada musibah kesehatan besar lagi ke depannya.
Saya tidak menulis ini untuk membuat siapa pun merasa bersalah kalau belum punya asuransi tambahan — saya paham betul alasannya, karena saya sendiri dulu berpikir begitu. Tapi kalau ada yang membaca cerita ini dan sedang menimbang-nimbang, mungkin ini saatnya untuk benar-benar duduk dan menghitung: seandainya BPJS saja tidak cukup untuk situasi terburuk, apa yang bisa jadi jaring pengaman berikutnya? Tidak harus produk yang mahal — kadang cukup mulai dari yang kecil, asal ada, supaya kalau saatnya tiba, keluarga tidak harus bergantung pada kebaikan hati orang yang bahkan tidak dikenal.
Catatan: ini kisah ilustratif yang menggabungkan pengalaman umum banyak keluarga Indonesia; nama & detail diubah untuk privasi.