Penyakit Kritis
Berapa uang pertanggungan yang saya butuhkan untuk penyakit kritis?
Perkirakan berdasarkan kebutuhan hidup selama 1-3 tahun tanpa penghasilan ditambah estimasi biaya pengobatan di luar BPJS, lalu sesuaikan dengan kemampuan bayar premi jangka panjang.
Diperbarui 27 Juli 2026
Berbeda dari asuransi jiwa yang menghitung kebutuhan berdasarkan pengeluaran keluarga jangka panjang, uang pertanggungan penyakit kritis idealnya dihitung berdasarkan dua komponen utama: berapa lama kamu mungkin tidak bisa bekerja, dan berapa biaya tambahan di luar yang ditanggung BPJS/asuransi kesehatan.
Komponen 1: pengganti penghasilan selama masa pemulihan
Pemulihan dari penyakit kritis bisa memakan waktu bervariasi — dari beberapa bulan sampai lebih dari satu tahun, tergantung jenis dan tingkat keparahan penyakit. Sebagai titik awal perhitungan, banyak perencana keuangan menyarankan mempertimbangkan kebutuhan hidup selama sekitar 1-3 tahun tanpa penghasilan sebagai basis kasar, lalu disesuaikan dengan situasi pribadi (jenis pekerjaan, ada/tidaknya penghasilan pasangan, tabungan yang tersedia).
Rumus kasarnya: pengeluaran bulanan rumah tangga × jumlah bulan target perlindungan = komponen pertama.
Komponen 2: biaya pengobatan di luar BPJS/asuransi kesehatan
Ini lebih sulit diperkirakan karena tergantung jenis penyakit, tapi pertimbangkan: obat-obatan di luar formularium, terapi tambahan, biaya naik kelas rawat inap, transportasi dan akomodasi jika perlu berobat ke kota lain, serta kemungkinan pengobatan alternatif yang ingin dicoba keluarga. Karena inflasi biaya medis di Indonesia diperkirakan sekitar 10-15% per tahun, angka yang terasa cukup hari ini mungkin tidak lagi cukup dalam 5-10 tahun ke depan — pertimbangkan melebihkan sedikit dari estimasi minimum sebagai buffer.
Contoh ilustrasi (bukan patokan pasti)
Misalnya pengeluaran rumah tangga Rp 10 juta/bulan, target perlindungan 18 bulan tanpa penghasilan: komponen pertama sekitar Rp 180 juta. Ditambah estimasi biaya pengobatan tambahan di luar BPJS sekitar Rp 150-300 juta (sangat bervariasi tergantung penyakit dan pilihan pengobatan). Total kasar berkisar Rp 330-480 juta. Sekali lagi, ini murni ilustrasi cara berhitung, bukan angka yang berlaku untuk semua orang.
Sesuaikan dengan kemampuan bayar premi
Uang pertanggungan yang besar tidak berguna kalau preminya membebani cashflow bulanan sehingga berisiko tidak terbayar di tahun-tahun berikutnya. Kalau anggaran terbatas, lebih baik memulai dengan uang pertanggungan yang lebih realistis namun konsisten dibayar, daripada memilih angka besar yang berisiko lapse di tengah jalan.
Pertimbangkan juga situasi pribadi ini
- Pekerja lepas/wiraswasta umumnya butuh uang pertanggungan lebih besar karena tidak ada jaminan penghasilan dari kantor saat sakit.
- Karyawan dengan asuransi kantor mungkin sudah punya sebagian proteksi dari perusahaan — cek dulu manfaat yang sudah ada sebelum menghitung kebutuhan tambahan, supaya tidak berlebihan membeli proteksi yang sudah tersedia.
- Riwayat kesehatan keluarga bisa jadi pertimbangan tambahan, meski ingat ini juga memengaruhi proses underwriting dan bisa mempersulit atau memperbesar premi pengajuan polis baru.
Tinjau ulang secara berkala
Sama seperti asuransi jiwa, uang pertanggungan penyakit kritis sebaiknya ditinjau ulang setiap beberapa tahun atau saat ada perubahan besar dalam hidup — kenaikan gaji, penambahan tanggungan, atau perubahan gaya hidup — supaya tetap relevan dengan kebutuhan riil, bukan sekadar keputusan yang dibuat sekali lalu dilupakan.